“Bangsa yang besar adalah bangsa yang
menghargai budayanya, Indonesia layak disebut bangsa yang berbudaya.” –
Salah satu kutipan Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan.
Dokumentasi
pribadi / Tri Ayu Lutfiani (Caption foto: Sekumpulan anak belajar
membatik di stan Museum Tekstil dalam acara Destinasi Indonesia Expo
2019.)
Menjadi salah satu
kebudayaan Indonesia yang ditetapkan sebagai Indonesian Curtular
Herittage atau warisan budaya tak benda oleh United Nations Educational,
Scientific, and Curtular Organisation (UNESCO), batik kini semakin
populer dan mengalami berbagai inovasi.
Jika
dulu batik hanya digunakan untuk kondangan atau daster (gaun longgar
untuk di rumah), saat ini batik bisa ditemukan dalam busana modern karya
desainer-desainer terkenal. Bahkan beberapa jenis motif batik sudah
terkenal di mancanegara, seperti Mega Mendung, Sogan, dan Sekar Jagad.
Berasal
dari bahasa Jawa “amba” berarti tulis dan “tik” yang berarti titik,
batik memiliki arti menulis titik. Sedangkan dalam jurnal Batik Sebagai
Identitas Kultural Bangsa Indonesia di Era Globalisasi karya Iskandar
dan Eny Kustiyah, menyebutkan menurut Sularso dkk., batik merajuk pada
kain dengan corak yang dihasilkan oleh bahan malam (wax) yang
diaplikasikan ke atas kain sehingga menahan masuknya pewarna (dye).
Batik
merupakan identitas bangsa Indonesia yang sudah seharusnya dijaga dan
dilestarikan, khususnya oleh generasi muda. Banyak hal yang bisa
dilakukan untuk melestarikan batik, contohnya dengan mengenakan batik,
belajar membatik, atau menyelenggarakan acara pegelaran kesenian batik.
“Cara
sederhana yang bisa dilakukan oleh anak muda untuk mencintai batik
yaitu dengan mengetahui perbedaan batik tulis, cap, dan print,” ujar
Lilis, salah satu staf Museum Tekstil, Jakarta Barat, saat ditemui dalam
acara Destinasi Indonesia Expo 2019 di Balai Sidang Jakarta Convention
Center.
Selain itu, menurut
Lilis, edukasi mengenai cara pembuatan batik di sekolah pun bisa menjadi
salah satu langkah untuk ikut serta dalam melestarikan budaya batik.
Setidaknya siswa-siswa nantinya akan lebih menghargai proses pembuatan
batik dan bisa pula mengubah pola pikir bahwa batik itu hanya untuk
kalangan orang tua.
Dokumentasi
Pribadi/ Tri Ayu Lutfiani.(Caption foto: Anak-anak dengan serius
belajar menggambar motif burung dan bunga menggunakan canting dan
malam.)
Dalam stan Museum
Tekstil, terlihat lima anak SD asyik mengoreskan canting ke atas
selembar kain putih. Saking antusiasnya, mereka bahkan saling berebut
mencelupkan canting ke dalam malam.
“Aku
mau belajar batik, aku mau belajar batik” ucap salah seorang anak
lelaki sambil tangannya mengoreskan canting secara perlahan. Ada pula
yang hanya duduk memperhatikan kawannya. Saat ditanya mengapa tidak
ikutan mencoba, ia hanya tersipu malu lantas pindah tempat duduk.
Pengunjung
yang datang ke stan tersebut bisa dengan bebas belajar membuat batik.
Untuk anak-anak disediakan motif-motif sederhana seperti bunga dan
burung dalam selembar kain yang ukurannya tidak terlalu besar. Ada pula
motif batik dalam kain besar yang bisa dicoba oleh orang dewasa.
Membuat
batik sendiri menurut Lilis bisa dijadikan sebagai media meditasi
(tenang), meredakan emosi, melatih kesabaran, dan belajar untuk fokus.
“Membatik
itu dengan hati, kalau perasaan sedang tidak mood, lebih baik ditunda
dulu kegiatan membatiknya, jika dilanjutkan hasilnya tidak akan
baik,”ujar Lilis.
Mari lestarikan batik Indonesia: batikku, batikmu, batik kita semua!
https://bandungberita.com/aku-cinta-batik-indonesia-kamu/

Wah, aku juga dong cinta batik hehehe
BalasHapusDuh jadi semakin cintaa sama batikk😍
BalasHapus