Kehidupan kampus ternyata berbeda jauh dengan drama-drama yang sering ditonton ibuku. Konflik yang ada tidak hanya masalah rebutan pasangan, cinta terhalang restu orang tua, atau bahkan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Di kehidupan sebenarnya, permasalahan yang muncul tidak sesederhana itu. Salah jurusan, status mahasiswa yang bisa hilang karena masalah kehadiran, tugas yang membuat lelah mata, atau dosen yang tidak ada pengertian menjadi sebagian kecil dari hal yang sebenarnya terjadi di kehidupan perkuliahan.
Namaku Reina Rosalyn. Suka hujan, suka buku, dan suka tantangan baru. Aku kuliah disebuah kampus yang katanya dijuluki kampus perjuangan. Saat ini, aku tengah menjalani semester akhirku. Ekspetasi-ekspetasi tentang dunia kampus yang kulihat di televisi tentu sudah lama aku hilangkan, karena kini aku telah merasakan sendiri kenyataannya.
Sejak awal mendaftar, aku telah yakin dengan pilihanku. Tapi, ternyata aku luput akan kemampuanku. Rutinitas yang awalnya membuat nyaman, semakin menginjak semester tua membuatku semakin bertanya-tanya, “Apa pilihanku sudah tepat? Akan kubawa ke mana kaki setelah keluar dari kampus ini?”
***
Jalanan menuju kampus terlihat ramai seperti biasanya. Beberapa ada yang berjalan dan ada pula yang mengendarai sepeda motor, seperti yang aku lakukan saat ini. Semuanya terlihat sibuk dan terburu-buru. Kaki yang melangkah cepat serta motor yang berlalu lalang.
Motorku terus melaju menuju gedung jurusan. Aku sedikit menurunkan kecepatan motor dan masuk ke dalam parkiran. Kulihat parkiran belum terlalu penuh. Aku menuju parkiran paling bawah agar memudahkanku keluar nantinya. Setelah memarkirkan motor, aku bergegas menuju kelas.
Aku menaiki satu per satu anak tangga hingga sampai di lantai empat, tempat di mana kelasku berada.
“Kak Rein… Masuk pagi, Kak?” sapa Dini, salah satu stafku di organisasi.
“Iya,”jawabku singkat sambil sedikit menyunggingkan senyuman.
“Kakak kenapa, sih? Masih pagi mukanya udah ditekuk gitu,” tanyanya.
“Haha, nggak kok. Yaudah aku duluan, ya.”jawabku menghindar sambil melambaikan tangan.
Aku tahu itu bohong, tapi biarlah. Dia tidak perlu tahu kebenarannya. Bukan suatu hal yang penting untuk diceritakan.
Dengan nafas yang masih tersenggal aku masuk kelas. Kulihat hanya ada dua temanku yang sudah datang. Setelah mengucap salam, aku langsung mencari tempat duduk yang berada di pojok. Entahlah, aku merasa sedang tidak bersemangat dan enggan untuk berinteraksi dengan sekitar.
Satu per satu temanku mulai berdatangan. Namun, hingga tiga puluh menit berlalu, dosenku belum juga terlihat batang hidungnya. Aku yang sedang malas bertegur sapa ini sibuk dengan ponselku. Sebenarnya aku hanya membaca beberapa berita dan sebuah utas. Tak lupa pula kupasang headset. Sejujurnya itu hanya hiasan saja. Sengaja kupasang agar orang-orang tidak ada yang menggangguku.
Banyak hal yang sedang aku pikirkan, salah satunya tentang kuliahku saat ini. Berada di semester akhir, mengharuskanku untuk lebih serius memikirkan masa depanku.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Udah siap magang?”, “Mau magang di mana?” atau “Nanti lulus rencananya mau kerja di mana? Atau mau lanjut kuliah lagi?” mulai terdengar di telingaku. Jujur saja, aku belum tahu. Aku memang memiliki beberapa rencana untuk ke depannya, tapi melihat kemampuanku, aku merasa pesimis untuk bisa melewatinya.
“Kamu kenapa?”tanya Sita sedikit memecah lamunanku.
“Eh.. Nggak, kok hehe.”jawabku, lagi-lagi berbohong.
“Beneran?”Sita kembali bertanya.
Aku tahu ia menyadari sikap anehku hari ini. Tapi, aku benar-benar tidak ingin bercerita untuk saat ini.
“Iya, gapapa, kok, serius,”ujarku.
Aku mencoba tersenyum kepadanya, agar ia yakin bahwa aku benar baik-baik saja. Sita memegang tanganku seolah-olah ingin menguatkan dan kemudian meninggalkan aku sendiri.
Aku memperhatikan sekitar. Ada yang berfoto ria atau sekadar berbincang. Hanya aku yang terlihat menarik diri dari keramaian.
Terkadang, aku merasa iri dengan teman-teman. Mereka mempunyai setidaknya satu bidang yang ia kuasai di jurusanku saat ini. Sedangkan aku? Aku masih terombang-ambing tanpa arah. Aku merasa tidak memiliki keahlian yang benar-benar aku kuasai.
Perdebatan selalu terjadi antara aku dan batinku.
“Kamu punya kemampuan, tapi kurang bisa memaksimalkannya,”ujar batinku.
“Aku sudah berusaha, hanya saja memang dari awal jalanku sudah salah. Tidak seharusnya aku mengambil jurusan ini,”jawabku dengan ketus kepada diriku sendiri.
“Lagi-lagi seperti itu, penyesalan lagi penyesalan lagi. Hidupmu akan seperti ini terus jika kamu hanya memikirkan masa lalu tanpa ada usaha memperbaiki masa depan,”batinku kembali bersuara,”satu lagi, cobalah percaya kepada dirimu sendiri, kamu tidak seburuk pikiranmu. Jangan selalu fokus pada kelemahan, jangan lupakan, kamu pun punya kelebihan,”
“Iya, dan kelebihanku tidak bisa menutupi kelemahanku di jurusan yang aku ambil ini. Coba pikirkan, jurusanku ini setidaknya butuh orang-orang yang bisa berkomunikasi dengan lancar, kamu lihat aku? Orang yang menghindari ilmu komunikasi ini apa bisa menjalani ini semua? Mungkin bisa, tapi tidak maksimal. Terus apalagi? Tulisan? Tulisanku biasa-biasa saja. Tidak pernah membuat orang kagum, merasa termotivasi, atau menjuarai perlombaan. Seni? Haha. Kamu tahu sendiri, aku tidak ada kreatif-kreatifnya. Apalagi yang bisa aku banggakan?”jawabku dengan nada menyindir.
“Nah itulah kamu. Manusia negatif! Kamu tahu bahwa kamu tidak memiliki satu pun keahlian yang menonjol. Apa kamu pernah mencoba mengubah keadaan? Mencoba mendalami salah satu ilmu dasar yang ada di jurusanmu? Tidak! Kamu hanya mengeluh. Kerjaanmu hanya tidur-tiduran tapi cita-citanya ingin memiliki keahlian di segala bidang. Bangun, sadar diri!”tegas batinku.
Lamunanku kembali tersadar saat Sita kembali dihadapanku.
“Kamu beneran gapapa?”tanyanya kembali
“Aku gapapa, Ta.”
“Teman-teman pada nanyain kamu kenapa sendirian dan diem terus. Ada masalah apa?”
Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Aku kembali memainkan ponselku. Melihatku yang mengabaikannya, Sita kembali ke tempat duduknya.
“Maaf, Ta. Aku sedang tidak ingin bercerita,”ujarku dalam hati.
Tak lama kemudian, dosenku datang. Kegiatan belajar hari itu berjalan normal dan sesekali diisi dengan candaan. Namun, tentu saja, aku tetap diam. Pikiranku terlalu dipenuhi oleh banyak asumsi yang menyebabkanku sulit untuk tertawa. Sebelum terserang “penyakit” mengantuk, untungnya dosenku mengakhiri proses belajar hari itu.
Aku bergegas pulang tanpa menghiraukan teman-temanku. Aku lelah. Lelah dengan pikiran dan diriku sendiri. Aku ingin segera sampai rumah, tidur, dan melupakan sejenak permasalahanku.
Malamnya, aku menuliskan semua konflik batinku kemudian mengunggahnya di blog pribadiku. Aku termasuk orang yang tidak mudah untuk bercerita, sehingga aku memilih media tulisan untuk menuangkan segala emosi dalam jiwa. Setelah selesai menulis, aku beranjak tidur. Berharap pikiran negarif dan ketakutan-ketakutanku akan hilang esok hari.
Pagi hari, aku berangkat kuliah seperti biasa, bedanya hari ini aku tidak mengendarai sepeda motor. Masih dengan kondisi hati dan pikiran yang belum baik-baik saja. Aku mulai mencoba biasa saja. Berusaha untuk sedikit berbicara meskipun apa adanya.
Karena hari ini cukup singkat, hanya ada satu mata kuliah, aku bisa pulang lebih cepat. Sesaat hendak pulang, salah satu temanku menghampiriku.
“Rein…”panggilnya.
“Iya?”aku yang sedang mengenakan sepatu menoleh kepadanya.
“Nih…”ucap Aya sambil menyodorkan sesuatu yang dibungkus oleh kertas HVS putih.
“Ini apa?”tanyaku padanya.
“Udah buka aja nanti di rumah,”jawabnya sambil pergi meninggalkanku.
“Makasih, ya..”ucapku sedikit berteriak. Aku memasukan pemberian Aya tersebut ke dalam tas dan pulang.
Di dalam angkot, aku penasaran dengan pemberian Aya. Aku hendak membukanya namun seketika aku ingat pesan Aya untuk membukanya di rumah. Tapi, namanya juga aku, tidak sabaran, akhirnya aku buka bungkus tersebut. Dalam bungkus itu, terdapat selembar kertas yang berisi tulisan Aya.
Dalam tulisannya, Aya menanyakan keadaanku, ia pun tahu aku sedang tidak baik-baik saja. Namun, ia mencoba untuk tetap diam, memberikan aku waktu untuk sendirian. Di sana pun tertulis motivasi-motivasi mengenai kepercayaan diri, self-improvement, dan self-love, sesuatu yang sedang aku butuhkan. Ia pun memberikan minuman, berharap dengan meminum itu moodku menjadi lebih baik, katanya.
“Mungkin Aya baca blogku, jadi tahu apa masalahku,”pikirku. Aku menyimpan kembali kado tersebut dalam tas.
Malamnya, sebelum tidur aku mencoba menuliskan segala hal-hal yang sedang aku pikirkan. Tulisan yang Aya berikan untukku sedikit membuatku tersadar. Ternyata memang benar, aku hanya terlalu fokus pada kelemahan dan kurang percaya pada diri sendiri. Banyak peluang untuk membuatku memiliki setidaknya satu saja keahlian, hanya saja aku tidak mengoptimalkannya.
Aku menganggap selama ini salah jurusan dan hanya fokus pada sisi negatifnya. Jika aku berpikir positif, apa salahnya masuk jurusanku saat ini, sebab ilmu yang diberikan bisa berguna di segala bidang. Lagi pula, tidak ada ilmu yang sia-sia. Aku luput akan petuah penting itu.
Ternyata, selama ini pun aku hanya perlu mengikuti kata hatiku, mencoba berdamai dengan diri sendiri. Bukan malah sebaliknya, iri dengan prestasi orang lain dan terus menyalahkan diri karena tidak sanggup menyamainya. Setiap orang tentu ditakdirkan memiliki kesempatan yang berbeda, bukan?
Ternyata, selama ini pun aku hanya perlu mengikuti kata hatiku, mencoba berdamai dengan diri sendiri. Bukan malah sebaliknya, iri dengan prestasi orang lain dan terus menyalahkan diri karena tidak sanggup menyamainya. Setiap orang tentu ditakdirkan memiliki kesempatan yang berbeda, bukan?
Lantas apa yang seharusnya aku lakukan?
“Aku hanya perlu menerima diriku sendiri— menerika kelebihan dan kekuranganku. Mencoba untuk memaafkan diri sendiri dan orang yang pernah menyakiti hati. Selain itu, hiduplah dengan penuh syukur dan bahagia, tanamkanlah pikiran-pikiran positif, dan jangan lupa untuk terus berusaha.
Sampai berjumpa di hari Senin, aku akan lebih banyak ceria dan tertawa. Tunggu aku.”
Titik. Aku mengakhiri tulisanku di blog malam itu. Kemudian tanganku mengambil meminum pemberian temanku hari itu—minuman yang selalu aku anggap dapat memperbaiki moodku, padahal itu hanyalah sugesti saja.
Aku meminumnya, memejamkan mataku sembari menikmati rasanya. Kubuka mataku kemudian tersenyum dan berkata,” Ya.. Aku siap menghadapi semua dengan semangat baruku.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar