Kamu tau salah satu hal yang lebih melelahkan selain berlari mengelilingi lapangan?
Berperilaku seperti dan menurut kehendak orang lain.
Semua serba dibatasi.
Terkekang.
Tertekan.
Semoga tidak sampai depresi
dan lalu
bunuh diri.
"Hidup ini kan emang harus ada aturan, di mana aturan tersebut dibuat orang lain dan kita berada di lingkungan yang menuntut kita harus berperilaku berdasarkan kehendak orang lain itu."
Aku mengerti. Tapi bisakah aku sebentar saja bebas? Mengikuti segala keinginanku tanpa perlu terikat dengan suatu hal yang katanya aturan itu?
***
Perkenalkan namaku Gadis. Kata teman-teman, aku kaku dan terlalu pendiam. Selama hidup di dunia ini, aku mengikuti segala aturan yang ada. Dari mulai aturan kecil hingga aturan-aturan yang cukup serius.
Saat SMP, ketika teman-teman mulai mengenakan sepatu berwarna-warni, aku tetap setia memakai sepatu polos hitamku. Karena aturan dari sekolahku sudah jelas, semua siswa wajib menggunakan sepatu berwarna hitam.
Atau SMA, saat jam pelajaran, teman-teman gengku bolos ke kantin. Sedangkan aku tidak berani. Aku tetap berada di dalam kelas, mendengarkan celetohan guru yang membosankan.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti peraturan yang ada.
Hingga suatu hari, aku ingin sekali menjadi pemberontak.
Aku mulai lelah dengan segala aturan-aturan yang membuat sesak dan langkah terikat tak bisa bergerak.
"Aturan itu ada untuk dilanggar. Gak papa sesekali gak ngikutin aturan,"ujar salah seorang temanku.
"Aturan itu ada agar hidupmu terarah, tidak berantakan,"ujar teman yang lainnya.
Tentu saja aku menyetujui dua kalimat tersebut. Aku paham benar akan penjelasan mereka. Namun, sampai saat ini aku masih kehilangan arah untuk bertindak seperti apa.
Hendak melawan dan mengabaikan aturan, tapi khawatir semuanya akan berantakan. Memilih terus mengikuti aturan, namun hati semakin tertekan dan jiwa tak bisa bebas.
Baiknya aku harus bagaimana?
Aku mulai merasa lelah dengan terus mengikuti aturan yang tak sesuai dengan diriku. Memang, pada dasarnya sudah seharusnya aku sendiri yang menyesuaikan terhadap aturan tersebut, bukan sebaliknya. Berada di tempat baru, berarti aku harus mulai beradaptasi dengan lingkungan dan tentu aturan yang ada di dalamnya.
Tapi, entah mengapa, rasanya susah dan malah membuat aku semakin terkekang. Hendak melakukan ini, namun memikirkan aturan itu.
Meskipun si pembuat aturan sering kali menyuruhku untuk bebas di luar sana, asal tetap menjaga komunikasi, namun dalam kesempatan yang sama saat aku bebas, ia malah seolah menyudutkan diriku.
Aku kebingungan. Sikap seperti apa yang seharusnya aku tunjukan? Rasanya semuanya serba salah.
Aku harus apa dan bagaimana?
Benarkah aturan itu ada agar hidup tidak berantakan? Atau hanya dijadikan alat untuk menekan kebebasan?
Aku harus bagaimana?
Berperilaku seperti dan menurut kehendak orang lain.
Semua serba dibatasi.
Terkekang.
Tertekan.
Semoga tidak sampai depresi
dan lalu
bunuh diri.
"Hidup ini kan emang harus ada aturan, di mana aturan tersebut dibuat orang lain dan kita berada di lingkungan yang menuntut kita harus berperilaku berdasarkan kehendak orang lain itu."
Aku mengerti. Tapi bisakah aku sebentar saja bebas? Mengikuti segala keinginanku tanpa perlu terikat dengan suatu hal yang katanya aturan itu?
***
Perkenalkan namaku Gadis. Kata teman-teman, aku kaku dan terlalu pendiam. Selama hidup di dunia ini, aku mengikuti segala aturan yang ada. Dari mulai aturan kecil hingga aturan-aturan yang cukup serius.
Saat SMP, ketika teman-teman mulai mengenakan sepatu berwarna-warni, aku tetap setia memakai sepatu polos hitamku. Karena aturan dari sekolahku sudah jelas, semua siswa wajib menggunakan sepatu berwarna hitam.
Atau SMA, saat jam pelajaran, teman-teman gengku bolos ke kantin. Sedangkan aku tidak berani. Aku tetap berada di dalam kelas, mendengarkan celetohan guru yang membosankan.
Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengikuti peraturan yang ada.
Hingga suatu hari, aku ingin sekali menjadi pemberontak.
Aku mulai lelah dengan segala aturan-aturan yang membuat sesak dan langkah terikat tak bisa bergerak.
"Aturan itu ada untuk dilanggar. Gak papa sesekali gak ngikutin aturan,"ujar salah seorang temanku.
"Aturan itu ada agar hidupmu terarah, tidak berantakan,"ujar teman yang lainnya.
Tentu saja aku menyetujui dua kalimat tersebut. Aku paham benar akan penjelasan mereka. Namun, sampai saat ini aku masih kehilangan arah untuk bertindak seperti apa.
Hendak melawan dan mengabaikan aturan, tapi khawatir semuanya akan berantakan. Memilih terus mengikuti aturan, namun hati semakin tertekan dan jiwa tak bisa bebas.
Baiknya aku harus bagaimana?
Aku mulai merasa lelah dengan terus mengikuti aturan yang tak sesuai dengan diriku. Memang, pada dasarnya sudah seharusnya aku sendiri yang menyesuaikan terhadap aturan tersebut, bukan sebaliknya. Berada di tempat baru, berarti aku harus mulai beradaptasi dengan lingkungan dan tentu aturan yang ada di dalamnya.
Tapi, entah mengapa, rasanya susah dan malah membuat aku semakin terkekang. Hendak melakukan ini, namun memikirkan aturan itu.
Meskipun si pembuat aturan sering kali menyuruhku untuk bebas di luar sana, asal tetap menjaga komunikasi, namun dalam kesempatan yang sama saat aku bebas, ia malah seolah menyudutkan diriku.
Aku kebingungan. Sikap seperti apa yang seharusnya aku tunjukan? Rasanya semuanya serba salah.
Aku harus apa dan bagaimana?
Benarkah aturan itu ada agar hidup tidak berantakan? Atau hanya dijadikan alat untuk menekan kebebasan?
Aku harus bagaimana?


Tidak ada komentar:
Posting Komentar