Cyberbullying: Ajang Mencari Perhatian - Sagara Aksara

Follow us

test banner

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 22 Oktober 2019

Cyberbullying: Ajang Mencari Perhatian

Foto/ Tweak Library

Kabar meninggalnya salah satu aktris Korea Selatan, Sulli f(x), membuat media sosial ramai beberapa hari terakhir. Kematiannya disebut-sebut akibat depresi lantaran membaca komentar negatif netizen di media sosial.

Tidak bisa dipungkiri, media sosial merupakan wadah untuk melakukan komunikasi dan mengutarakan pendapat. Namun, terkadang keberadaan media sosial digunakan untuk hal-hal yang negatif, seperti menebar kebencian, cemooh, atau hujatan.

Perbuatan seperti itu biasa dikenal dengan istilah cyberbullying, yaitu salah satu istilah yang merujuk pada tindakan kekerasan melalui media sosial atau internet. Dengan maraknya media sosial, tidak menutup kemungkinan seseorang menjadi korban atau bahkan pelaku cyberbullying.

Tindakan cyberbullying ini secara tidak langsung dapat mengganggu kesehatan mental. Seseorang yang menjadi korban cyberbullying dapat merasakan malu, depresi, bahkan hingga bunuh diri. Sebenarnya, hal apa saja yang bisa membuat seseorang melakukan tindakan cyberbullying?

Pelampiasan
Orang yang pernah menjadi korban bullying di kehidupan nyata, besar kemungkinan akan melampiaskan perasaannya di media sosial dengan menjadi pelaku cyberbullying. Dengan mudahnya memalsukan identitas, sumpah serapah dapat dengan mudah dituangkan di media sosial.
Pelampiasan ini merupakan sebagai bentuk kekesalannya. Seseorang yang menjadi korban di dunia nyata akan merasa puas jika sudah mencaci maki orang lain di media sosial.

Mencari Kesenangan
Terkadang, secara tidak sadar seseorang mengolok-olok temannya. Mungkin bagi pelaku awalnya hanya iseng atau sekadar bercanda, namun biasanya pelaku akan terus melakukan hal tersebut sebelum dirinya merasa puas.
Pelaku akan merasa senang jika melihat korban merasa sedih karena komentar yang ditulisnya. Pelaku tersebut mungkin tidak sadar, tindakannya dapat membuat korban kehilangan kepercayaan diri bahkan membenci dirinya sendiri.

Mencari Perhatian
Keluarga menjadi salah satu faktor yang mendukung perkembangan seorang anak. Keluarga yang harmonis dapat membuat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan penuh kasih sayang, seperti yang diperlihatkan oleh orang tuanya.
Namun, seorang anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orang tua cenderung melakukan tindakan negatif, seperti cyberbullying. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan perhatian, pelaku akan mencari sensasi contohnya dengan menuliskan hujatan atau cemoohan.

Iri
Seseorang yang tidak memiliki rasa percaya diri tinggi akan mencari cara untuk melampiaskannya dengan mencari kekurangan dan kelemahan orang lain. Biasanya, orang ini memiliki sifat tertutup dan minder akan keberadaan dirinya.
Oang tersebut merasa dirinya tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan, oleh sebab itu mencoba mencari kelemahan orang lain agar merasa ada kesamaan.

Tidak Bijak Bersosial Media
Media sosial seharusnya digunakan untuk ajang berkomunikasi dan bersosialisasi, bukan menjatuhkan harga diri atau menebar benci. Seseorang yang melakukan cyberbullying biasanya tidak menyadari akan fungsi media sosial.
Orang tersebut malah dengan senang dan bangganya menuliskan kalimat-kalimat negatif untuk menjatuhkan orang yang tidak disukai. Padahal, banyak hal positif yang bisa diambil dari media sosial jika bisa memanfaatkannya dengan bijaksana.


Itulah beberapa hal yang menyebabkan seseorang menjadi pelaku cyberbullying. Perilaku cyberbullying sudah seharusnya dihentikan. Untuk itu, biasakan untuk saring terlebih dalu apa pun yang akan ditulis di media sosial sebelum menyebarkannya.

60 komentar:

  1. Artikelnya keren nih.. Semoga segera hilang deh netizen yang suka komen kasar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, lebih baik berkata baik atau diam, betul tidak?

      Hapus
  2. Wah, emang nih lagi booming banget cyberbullying... Ternyata berdampak buat mental jg ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa benar sekali, makanya harus berhati-hati dalam menuliskan sesuatu.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Yap, jangan sampai apa yang kita tulis membunuh sesorang secara perlahan yaaa!

      Hapus
  4. Bahaya juga yaa cyberbullying

    BalasHapus
  5. Bener2 bermanfaat ��, netijen perlu tau soal edukasi menggunakan medsos nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, jadilah netizen yang bijak dan cerdas, setuju?

      Hapus
  6. Wahh keren nih artikel,,,bisa menyadarkan netizen nihh klo sosmed bkn wadah untuk mencaci maki seseorang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, jadikanlah media sosial sebagai tempat untuk bersosialisasi, bukan caci maki:)

      Hapus
  7. Artikel yang bagus nih.. supaya kita sebagai warganet bisa lebih cerdas dalam bersosial media , kerenn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak, mari bijak bersosial media ya

      Hapus
  8. Artikel yang bagus. Setuju, membiasakan diri untuk saring dulu tulisan di medsos sebelum menyebarkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak. Betul sekali, jangan biasakan langsung share tanpa klarifikasi dan konfirmasi, ya!

      Hapus
  9. Semoga orang-orang di dunia maya bisa lebih bijak menggunakan media sosial mereka dan gak ada lagi kasus cyberbullying yg berakhir menyedihkan seperti Sulli😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, yuk mulai dari diri sendiri untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial:)

      Hapus
  10. ada satu lagi kak, efek gabut alias gaada kerjaan. kalau ada yang cyberbullying dengan alasan ini, bener-bener bodoh banget sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih masukannya. Mending ngerjain tugas ya kak daripada nyakitin orang😅

      Hapus
  11. artikel ini harus dibaca buat semua orang terutama yang suka komentar asal jeplak nih. Makasih artikelnya bermanfaat bgt

    BalasHapus
  12. Ketika kita berkomentar dengan merendahkan orang yg melakulan cyber bullying, apakah kita termasuk pelaku cyber bullying itu? Dengan kata lain kita merendahkan diri kita sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung, jika komentar kita dilakukan dengan baik-baik tanpa merendahkan si pelaku cyberbullying, menurut saya, kita tidak termasuk pelaku cyberbullying tersebut. Kan tujuan kita untuk mengingatkan dan menyadarkan bahwa apa yang si pelaku lakukan itu bukan suatu hal yang baik.. Hehe Koreksi kalo pendapat saya salah ya kak:)

      Hapus
  13. Org yg suka ngebully di socmed, ternyata bisa karena dia sering dibully juga yaa it's so tragic

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mengerikan ya. Dari korban menjadi pelaku. Miris.

      Hapus
  14. hati-hati dalam berkomentar huaaa. ngeri bgt, btw aku suka tulisan kamuuu

    BalasHapus
  15. Artikelnya bermanfaat banget nih di zaman sekarang. Soalnya banyaknyang ga bijak bersosial media

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kakak, semoga bisa diambil pelajaran dari hal-hal baik dari artikel yang saya tulis hehe

      Hapus
  16. Makanya diperlukan banget nih edukasi bijak dalam bersosial media. Agar tak ada lagi korban dari cyberbullying

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Peran keluarga dan orang terdekat sangat penting dalam penggunaan media sosial

      Hapus
  17. Bisa ambil pelajaran dari artiker diatas

    BalasHapus
  18. Bukan cuma mulut yang bisa pedes. Jari juga bisa jadi pedes ya. Ckckck.

    BalasHapus
  19. harusnya yg mau punya sosmed ditest psikologi dulu aja biar ga suka cyberbullying😡

    BalasHapus
  20. Baguss dan bermanfaat bgtt nii artikelnyaaa

    BalasHapus
  21. Bagaimana pun tetep tidak dibenarkan si yang namanya bullying, efek psikologisnya bisa sampe dewasa, nice artikelll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak. Kita gak pernah tau kondisi psikis seseorang..

      Hapus
  22. Bener bangeett sulli adalah satu dari sekian banyak orang yang sudah tidak kuat dengan cyberbullying :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya, semoga tidak ada nasib seperti Sulli lagi ya

      Hapus
  23. Bullying adalah pembunuhan secara perlahan. Kacaau

    BalasHapus

Post Top Ad

Responsive Ads Here